Jakarta, 7 September 2026 – Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi produksi dan ketersediaan beras nasional masih berada pada tingkat yang aman meskipun Indonesia menghadapi ancaman El Nino dan musim kemarau yang lebih kering. Pemerintah menilai surplus produksi yang terbentuk dalam dua tahun terakhir menjadi modal penting untuk menjaga kebutuhan pangan masyarakat. Amran mengakui terdapat proyeksi penurunan tipis produksi beras pada periode Januari hingga Oktober 2026, tetapi besarannya dinilai tidak signifikan dibandingkan keseluruhan produksi nasional. Pemerintah juga telah mempersiapkan berbagai langkah mitigasi jauh sebelum dampak El Nino mencapai puncaknya. Penguatan pompanisasi, jaringan irigasi, peningkatan produktivitas, serta penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan menjadi bagian dari strategi tersebut. Dengan kombinasi produksi dan cadangan yang tersedia, pemerintah optimistis kebutuhan beras nasional tetap dapat dipenuhi.
Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi beras nasional pada Januari hingga Oktober 2026 mencapai sekitar 31,41 juta ton. Jumlah tersebut turun sekitar 0,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 31,44 juta ton. Sementara produksi padi dalam bentuk gabah kering giling diproyeksikan mencapai sekitar 54,52 juta ton atau mengalami penurunan dengan persentase yang sama. Amran meminta angka tersebut dilihat secara proporsional karena penurunan 0,08 persen relatif kecil apabila dibandingkan dengan basis produksi beras nasional yang berada di sekitar 34,7 juta ton. Secara nominal, penurunan tersebut hanya setara sekitar 30 ribu ton beras. Besaran itu dinilai belum mengubah secara mendasar posisi produksi dan ketersediaan pangan nasional.
Pemerintah juga melihat posisi surplus sebagai salah satu faktor yang memperkuat ketahanan beras Indonesia menghadapi tekanan iklim. Amran menyebut Indonesia mencatat surplus sekitar 4 juta ton pada tahun sebelumnya dan kembali berada dalam kondisi surplus pada tahun ini. Dengan posisi tersebut, penurunan produksi sekitar 30 ribu ton dinilai masih relatif kecil dibandingkan kelebihan produksi yang telah terbentuk. Surplus tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk memperkuat cadangan sekaligus menjaga pasokan ketika produksi di sejumlah wilayah mengalami tekanan akibat kekeringan. Meski demikian, pemerintah tidak menganggap ancaman iklim sebagai persoalan ringan karena dampaknya dapat berbeda pada setiap sentra produksi. Pemantauan terhadap luas tanam, kondisi pertanaman, sumber air, dan perkembangan panen karena itu tetap dilakukan secara intensif.
Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog juga menjadi bagian penting dari pertahanan pangan menghadapi El Nino. Pada akhir Juli 2026, stok pemerintah berada di kisaran 5,2 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi menjelang puncak El Nino 2023. Ketika itu, cadangan beras pemerintah berada di sekitar 1,52 juta ton sebelum fenomena tersebut mencapai puncaknya. Peningkatan cadangan memberikan ruang intervensi yang lebih besar apabila terjadi gangguan produksi atau tekanan pasokan pada wilayah tertentu. Beras pemerintah dapat digunakan untuk berbagai program stabilisasi dan penanganan kebutuhan masyarakat sesuai kebijakan yang berlaku. Kondisi stok tersebut membuat pemerintah lebih percaya diri menghadapi kemungkinan penurunan produksi selama musim kemarau.
Amran menegaskan pemerintah telah melakukan persiapan jauh sebelum risiko kekeringan meningkat. Pompanisasi menjadi salah satu langkah utama dengan mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia untuk mengairi lahan pertanian. Pemerintah juga memperbaiki dan mengoptimalkan jaringan irigasi agar distribusi air menuju sawah dapat berlangsung lebih efektif. Embung, sumur dalam, irigasi perpompaan, serta sumber air alami dimanfaatkan untuk mempertahankan kegiatan tanam di wilayah yang mengalami penurunan curah hujan. Langkah tersebut terutama diarahkan ke daerah yang mempunyai potensi produksi besar tetapi menghadapi risiko kekurangan air. Pemerintah ingin intervensi dilakukan sebelum tanaman mengalami kekeringan berat sehingga kehilangan produksi dapat ditekan sejak awal.
Selain menjaga ketersediaan air, peningkatan produktivitas menjadi strategi lain yang ditempuh untuk mempertahankan produksi. Pemerintah mendorong penerapan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan hasil panen per hektare sehingga tekanan akibat perubahan luas panen dapat dikompensasi melalui produktivitas yang lebih tinggi. Amran mencontohkan sejumlah model pertanaman yang mampu mendorong hasil dari sekitar lima ton menjadi mendekati 10 ton per hektare dalam kondisi tertentu. Penggunaan varietas benih yang lebih tahan terhadap kekeringan juga terus diperluas sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan iklim. Strategi tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya berupaya mempertahankan luas tanam, tetapi juga meningkatkan hasil dari setiap lahan yang tersedia. Produktivitas yang lebih tinggi diharapkan memberikan tambahan perlindungan terhadap produksi nasional ketika sebagian wilayah menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
El Nino tetap menjadi tantangan karena berpotensi mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Tanaman padi termasuk komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan air sehingga perubahan pola hujan dapat memengaruhi jadwal tanam maupun produktivitas. Pemerintah menggunakan pengalaman menghadapi El Nino pada 2015, 2023, dan 2024 sebagai dasar menyusun langkah mitigasi pada tahun ini. Pemetaan daerah rawan kekeringan dilakukan agar distribusi pompa dan dukungan infrastruktur dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. Pemerintah daerah juga mempunyai peran penting dalam memastikan sumber air lokal dapat dimanfaatkan secara optimal. Koordinasi tersebut diharapkan mampu mencegah kekeringan berkembang menjadi gagal panen dalam skala luas.
Pemerintah tetap mencermati perkembangan produksi karena angka Oktober 2026 yang dipublikasikan masih berupa potensi atau proyeksi, bukan hasil produksi final. Realisasi nantinya dapat berubah berdasarkan kondisi pertanaman, luas panen, cuaca, dan produktivitas hingga periode panen selesai. Hal tersebut membuat intervensi pada September dan Oktober tetap penting untuk menjaga tanaman yang sedang memasuki fase produksi. Kementerian Pertanian terus meminta jajarannya berada di lapangan dan memastikan petani mendapatkan dukungan ketika menghadapi kesulitan air. Peralatan pertanian, pompa, benih, dan dukungan teknis diarahkan untuk mempertahankan musim tanam yang masih berjalan. Pemerintah menilai setiap kehilangan produksi yang dapat dicegah akan memperkuat posisi stok hingga memasuki tahun berikutnya.
Posisi cadangan yang kuat juga memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan petani. Ketika produksi meningkat pada musim panen, penyerapan beras dan gabah diperlukan agar harga di tingkat petani tidak mengalami tekanan berlebihan. Sebaliknya, cadangan yang telah dikumpulkan dapat digunakan untuk membantu stabilisasi ketika pasokan di pasar mengalami penurunan. Kebijakan tersebut menjadi penting karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi nasional, tetapi juga kemampuan mendistribusikan beras menuju wilayah yang membutuhkan. Pemerintah juga harus memastikan perubahan kondisi iklim tidak menciptakan ketimpangan pasokan antardaerah. Pengelolaan stok secara terukur menjadi salah satu instrumen untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam gejolak harga.
Amran memastikan pemerintah tidak akan mengendurkan langkah mitigasi meskipun produksi dan surplus beras nasional saat ini dinilai berada dalam kondisi kuat. Pompanisasi, optimalisasi irigasi, peningkatan produktivitas, serta penggunaan benih tahan kekeringan akan terus diperkuat selama ancaman El Nino masih berlangsung. Pemerintah juga akan mengikuti perkembangan realisasi produksi hingga akhir tahun untuk memastikan kebutuhan konsumsi tetap dapat dipenuhi. Surplus yang telah terbentuk dan Cadangan Beras Pemerintah sekitar 5,2 juta ton memberikan bantalan yang lebih besar dibandingkan ketika Indonesia menghadapi El Nino beberapa tahun sebelumnya. Namun, keberhasilan menjaga ketahanan pangan tetap bergantung pada kemampuan mempertahankan produksi di tingkat petani selama periode kering. Dengan intervensi yang dilakukan sejak dini, pemerintah optimistis Indonesia memiliki kesiapan yang cukup kuat untuk menghadapi El Nino tanpa mengganggu ketersediaan beras bagi masyarakat.





