Jakarta, 6 September 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan belum mendeteksi anomali muka air laut di sekitar Selat Sunda menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan secara intensif menggunakan jaringan sensor yang ditempatkan di berbagai titik untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya tsunami sebagai dampak sekunder aktivitas vulkanik. Hingga Minggu pukul 07.00 WIB, seluruh instrumen yang digunakan belum menunjukkan perubahan muka air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami. Meski demikian, BMKG menegaskan pemantauan tidak dihentikan karena kondisi Anak Krakatau masih dinamis. Masyarakat pesisir diminta tetap waspada tanpa perlu panik menghadapi perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan pemantauan dilakukan menggunakan 20 sensor tsunami gauge yang berada di sekitar Selat Sunda. Data dari seluruh sensor tersebut dianalisis secara berkelanjutan untuk mendeteksi perubahan muka air laut yang tidak biasa. Sampai waktu pemantauan terakhir, belum ditemukan pola yang mengarah pada kejadian tsunami. Sensor tsunami gauge menjadi salah satu perangkat utama untuk mengetahui perubahan ketinggian muka laut secara cepat. Informasi dari instrumen tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai sistem pemantauan lain. Pendekatan tersebut diperlukan karena potensi tsunami di kawasan Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan aktivitas tektonik.
BMKG juga mengaktifkan teknologi High-Frequency Radar Array yang berada di kawasan Carita dan Tanjung Lesung. Sistem tersebut telah berada dalam mode pemantauan tsunami sehingga dapat mendeteksi perubahan kondisi laut dari jarak sekitar 150 kilometer dari garis pantai. Berdasarkan analisis sementara, probabilitas tsunami tercatat berada pada kategori rendah atau di bawah 40 persen. Tinggi gelombang laut yang terpantau berada di kisaran satu meter pada periode pengamatan tersebut. Data ini memperkuat hasil pemantauan tsunami gauge yang belum menemukan anomali signifikan. Namun, hasil pemantauan tersebut menggambarkan kondisi pada waktu pengamatan dan dapat diperbarui apabila terjadi perubahan aktivitas.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan lembaganya menjalankan pemantauan selama 24 jam terhadap berbagai dampak yang mungkin muncul akibat erupsi Anak Krakatau. Pengawasan tidak hanya diarahkan terhadap potensi tsunami, tetapi juga kondisi atmosfer dan keselamatan penerbangan. Aktivitas gunung menghasilkan abu vulkanik yang telah menyebar hingga wilayah cukup jauh dari Selat Sunda. Karena itu, data meteorologi, geofisika, dan pengamatan kondisi laut dianalisis secara bersamaan. Pemantauan juga dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Geologi, BNPB, Kementerian Perhubungan, dan instansi terkait lainnya. Kolaborasi tersebut diperlukan agar perubahan kondisi dapat segera direspons sesuai tingkat ancamannya.
Selain kondisi muka air laut, instrumen BMKG merekam fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat gangguan geomagnetik yang berlangsung bersamaan dengan peningkatan sambaran petir vulkanik dalam rentang sekitar 12 jam terakhir. Intensitas gangguan tersebut dilaporkan tidak sebesar ketika periode awal letusan. Petir vulkanik dapat muncul akibat interaksi partikel-partikel di dalam kolom erupsi yang menghasilkan muatan listrik. Fenomena tersebut menjadi bagian dari parameter yang terus diamati selama aktivitas Anak Krakatau berlangsung. BMKG menggunakan berbagai data tersebut untuk memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai perkembangan dampak erupsi.
Pemantauan atmosfer menunjukkan abu vulkanik Anak Krakatau telah menyebar pada ketinggian yang berbeda dengan arah pergerakan yang tidak sama. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster utama sebaran abu. Abu pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya. Sementara abu pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Cakupan sebarannya meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia. Perubahan arah angin membuat pola sebaran abu terus diperbarui.
Dampak abu tersebut juga memengaruhi aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah. Sejak erupsi awal pada 4 September sekitar pukul 23.23 WIB, peringatan mengenai abu vulkanik terus diterbitkan untuk mendukung keselamatan navigasi udara. Hingga Minggu, sekitar 50 informasi SIGMET telah dikeluarkan secara berkala mengikuti perkembangan sebaran abu. Sejumlah bandar udara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto, sempat mengalami penutupan operasional sementara pada waktu yang berbeda. Kebijakan tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi ruang udara dan potensi bahaya partikel vulkanik terhadap pesawat. Operasional penerbangan dapat kembali berubah mengikuti hasil pemantauan terbaru.
Kewaspadaan terhadap potensi tsunami tetap menjadi perhatian karena Anak Krakatau mempunyai karakter bahaya yang berbeda dengan gempa bumi tektonik. Aktivitas gunung api dapat memicu tsunami apabila terjadi perpindahan massa material dalam jumlah besar ke laut, termasuk akibat longsoran tubuh gunung. Mekanisme semacam itu pernah menjadi perhatian besar setelah bencana tsunami Selat Sunda pada 2018. Karena itu, tidak adanya anomali muka air laut saat ini tidak berarti pemantauan dapat dihentikan. Kondisi gunung, perubahan muka air laut, dan kemungkinan pergerakan massa material tetap diawasi secara berkelanjutan. Setiap perubahan signifikan akan menjadi dasar untuk memperbarui informasi kepada masyarakat.
Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sepanjang pesisir Selat Sunda diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan tetap mengikuti arahan pemerintah. Warga tidak perlu melakukan evakuasi mandiri hanya berdasarkan informasi yang belum terverifikasi apabila belum terdapat instruksi resmi. Namun, masyarakat tetap dianjurkan mengetahui jalur evakuasi dan lokasi aman sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana. Nelayan, wisatawan, dan masyarakat juga harus mematuhi rekomendasi untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Informasi mengenai erupsi dan potensi dampaknya dapat berubah mengikuti perkembangan hasil pemantauan. Sikap tenang dan kewaspadaan dinilai penting agar masyarakat dapat mengambil tindakan secara tepat apabila situasi berubah.
BMKG akan mempertahankan pemantauan terpadu selama aktivitas Anak Krakatau masih berlangsung dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap kawasan sekitarnya. Hingga Minggu pagi, hasil pengamatan 20 tsunami gauge dan radar di kawasan Selat Sunda masih menunjukkan kondisi tanpa anomali muka air laut yang mengarah pada tsunami. Probabilitas tsunami berdasarkan analisis radar juga masih berada pada kategori rendah pada waktu pengamatan tersebut. Meski demikian, kondisi itu merupakan hasil pemantauan terkini dan bukan jaminan bahwa perubahan tidak dapat terjadi apabila aktivitas vulkanik berkembang. Koordinasi dengan Badan Geologi dan instansi penanggulangan bencana akan terus dilakukan untuk mempercepat penyampaian peringatan apabila diperlukan. Masyarakat pesisir diharapkan tetap waspada sekaligus menghindari penyebaran informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.





