Jakarta, 11 September 2026 – Pemerintah Maladewa mendorong digelarnya pembicaraan yang dinilai lebih bermakna mengenai persoalan kedaulatan Kepulauan Chagos di Samudra Hindia. Presiden Maladewa Mohamed Muizzu telah menyampaikan permintaan kepada Perdana Menteri Inggris Andy Burnham agar pembicaraan mengenai masa depan kepulauan tersebut dibuka kembali dengan melibatkan kepentingan Maladewa. Langkah tersebut muncul setelah Inggris sebelumnya mencapai kesepakatan untuk menyerahkan kedaulatan Chagos kepada Mauritius. Maladewa menyatakan kecewa karena tidak dilibatkan dalam proses konsultasi sebelum kesepakatan tersebut dicapai. Pemerintah di Malé menilai persoalan Chagos mempunyai dimensi regional yang membuat pandangan negara-negara di sekitarnya perlu mendapatkan perhatian. Permintaan dialog tersebut sekaligus menunjukkan sengketa Chagos masih menghadapi dinamika diplomatik meskipun Inggris dan Mauritius telah mencapai kesepakatan mengenai masa depan wilayah itu.
Muizzu menyampaikan sikap tersebut melalui surat kepada Burnham dengan meminta adanya keterlibatan resmi mengenai persoalan kedaulatan Chagos. Pemerintah Maladewa menginginkan pembicaraan yang tidak sekadar bersifat formal, tetapi memberikan ruang untuk membahas kepentingan dan kekhawatiran negara tersebut. Posisi geografis Maladewa yang relatif dekat dengan Kepulauan Chagos menjadi salah satu alasan isu tersebut mendapatkan perhatian besar di dalam negeri. Perubahan status wilayah di Samudra Hindia juga dapat mempunyai implikasi terhadap hubungan regional, keamanan maritim, dan pengelolaan kawasan. Maladewa karena itu memandang keputusan mengenai Chagos tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari dinamika lingkungan strategis di sekitarnya. Muizzu berharap pemerintah Inggris bersedia membuka komunikasi yang dapat menghasilkan pemahaman lebih jelas mengenai posisi masing-masing pihak.
Inggris memiliki pandangan berbeda mengenai pihak yang mempunyai posisi dalam pembicaraan kedaulatan tersebut. Pemerintah Inggris menegaskan persoalan kedaulatan Kepulauan Chagos merupakan urusan antara Inggris dan Mauritius. London menjelaskan bahwa alasan itulah yang mendasari dimulainya negosiasi dengan Mauritius pada 2022 dan bukan dengan Maladewa. Meski demikian, pemerintah Inggris menyatakan tetap melakukan komunikasi secara reguler dengan Maladewa mengenai berbagai persoalan lainnya. Sikap tersebut menunjukkan London belum memberikan indikasi akan memasukkan Maladewa sebagai pihak utama dalam perundingan mengenai kedaulatan Chagos. Perbedaan pandangan mengenai siapa yang seharusnya terlibat menjadi salah satu persoalan yang kini harus dijembatani melalui jalur diplomatik.
Kepulauan Chagos telah menjadi sumber perselisihan internasional selama beberapa dekade. Inggris memisahkan kepulauan tersebut dari Mauritius pada 1965 sebelum Mauritius memperoleh kemerdekaan pada 1968. Wilayah itu kemudian dikelola sebagai British Indian Ocean Territory. Mauritius sejak lama mempertahankan klaim bahwa Chagos merupakan bagian dari wilayahnya dan pemisahan tersebut berkaitan dengan proses dekolonisasi yang belum diselesaikan secara tepat. Persoalan itu kemudian berkembang melalui berbagai forum hukum dan diplomatik internasional. Inggris pada akhirnya memulai pembicaraan dengan Mauritius mengenai pelaksanaan kedaulatan atas kepulauan tersebut. Kesepakatan yang dicapai kemudian menjadi salah satu perubahan geopolitik penting di kawasan Samudra Hindia.
Nilai strategis Chagos semakin besar karena keberadaan Diego Garcia, pulau yang menjadi lokasi fasilitas militer penting Inggris dan Amerika Serikat. Pangkalan tersebut mempunyai posisi strategis untuk operasi di kawasan Samudra Hindia, Timur Tengah, dan wilayah sekitarnya. Karena alasan tersebut, setiap perubahan mengenai status Chagos tidak hanya berkaitan dengan persoalan sejarah dan kedaulatan, tetapi juga kepentingan keamanan internasional. Kesepakatan Inggris dan Mauritius dirancang dengan tetap mempertahankan keberlangsungan fasilitas militer di Diego Garcia melalui pengaturan jangka panjang. Faktor keamanan tersebut membuat penyelesaian Chagos melibatkan pertimbangan yang jauh lebih luas dibandingkan sengketa wilayah biasa. Perkembangan politik di kawasan juga membuat keberadaan pangkalan tersebut tetap menjadi perhatian berbagai negara.
Persoalan Chagos juga mempunyai dimensi kemanusiaan yang berkaitan dengan masyarakat Chagossian. Penduduk kepulauan tersebut dipindahkan beberapa dekade lalu ketika wilayah itu dikembangkan untuk kepentingan strategis dan militer. Hak mereka untuk kembali ke tanah leluhur kemudian menjadi bagian penting dalam perdebatan mengenai masa depan Chagos. Pada 2026, persoalan tersebut kembali mendapatkan perhatian setelah sejumlah warga Chagossian berupaya menetap kembali di salah satu pulau. Pengadilan British Indian Ocean Territory pada Maret 2026 juga mengeluarkan putusan penting mengenai hak tinggal masyarakat Chagossian. Perkembangan tersebut menunjukkan penyelesaian sengketa tidak hanya membutuhkan kesepakatan antarpemerintah, tetapi juga harus berhadapan dengan tuntutan masyarakat yang memiliki hubungan historis langsung dengan kepulauan.
Hubungan antara Maladewa dan Mauritius sendiri mengalami ketegangan akibat persoalan Chagos. Pada Februari 2026, Mauritius memutus hubungan diplomatik dengan Maladewa di tengah perselisihan mengenai kepulauan tersebut. Perkembangan itu memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai Chagos telah memberikan dampak nyata terhadap hubungan antarnegara di kawasan Samudra Hindia. Bagi Mauritius, pengakuan atas kedaulatan Chagos merupakan persoalan penting yang telah diperjuangkan selama beberapa dekade. Sementara itu, Maladewa terus menyampaikan kekhawatiran dan kepentingannya terhadap perkembangan status wilayah tersebut. Ketegangan diplomatik itu membuat upaya membangun komunikasi menjadi semakin penting apabila negara-negara terkait ingin menghindari perselisihan yang lebih luas.
Maladewa berkepentingan menjaga stabilitas kawasan Samudra Hindia karena perekonomian dan keamanan negara kepulauan tersebut sangat berkaitan dengan kondisi maritim. Jalur pelayaran, perikanan, pariwisata, dan keamanan laut merupakan sejumlah bidang yang memiliki arti penting bagi negara tersebut. Setiap perubahan besar terhadap pengaturan wilayah strategis di sekitarnya karena itu dapat memperoleh perhatian langsung dari pemerintah Maladewa. Dorongan untuk melakukan pembicaraan mengenai Chagos dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memastikan kepentingan nasional Maladewa ikut diperhitungkan. Pemerintah Muizzu juga ingin memperoleh kejelasan mengenai konsekuensi kesepakatan Inggris-Mauritius terhadap dinamika regional. Dialog dipandang menjadi jalur yang lebih efektif untuk menyampaikan kekhawatiran dibandingkan membiarkan perbedaan posisi berkembang tanpa komunikasi.
Bagi Inggris, tantangannya adalah mempertahankan kesepakatan yang telah dibangun dengan Mauritius sambil mengelola keberatan dari pihak lain. London harus mempertimbangkan kepentingan keamanan di Diego Garcia, hubungan dengan Mauritius, posisi masyarakat Chagossian, serta hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan. Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena perubahan pemerintahan dan dinamika politik dapat memengaruhi bagaimana kesepakatan sebelumnya dilaksanakan. Inggris juga harus memastikan setiap langkah mengenai Chagos mempunyai dasar hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Permintaan Maladewa untuk membuka pembicaraan menambah satu lagi dimensi diplomatik yang harus ditangani. Respons London selanjutnya akan menentukan apakah komunikasi dengan Maladewa berkembang menjadi pembicaraan khusus atau tetap berada dalam kerangka hubungan bilateral secara umum.
Dorongan Maladewa untuk melakukan pembicaraan bermakna menunjukkan persoalan kedaulatan Chagos belum sepenuhnya selesai meskipun Inggris dan Mauritius telah menempuh proses negosiasi panjang. Malé ingin memastikan pandangannya didengar sebelum perubahan status kepulauan tersebut benar-benar memasuki tahap akhir. Inggris sementara itu tetap berpendapat bahwa persoalan kedaulatan merupakan urusan bilateral dengan Mauritius. Perbedaan tersebut membuat diplomasi menjadi instrumen utama untuk mencegah ketegangan baru di kawasan Samudra Hindia. Keberadaan Diego Garcia, kepentingan masyarakat Chagossian, serta posisi strategis kepulauan membuat setiap keputusan mengenai Chagos mempunyai konsekuensi yang luas. Pembicaraan berikutnya akan menjadi penting untuk melihat apakah Inggris bersedia memberikan ruang lebih besar bagi Maladewa atau tetap mempertahankan kerangka penyelesaian yang telah disepakati dengan Mauritius.





