Jakarta, 9 September 2026 – Perum Bulog memperkuat dan memperluas saluran distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar pasokan dapat lebih cepat sampai kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan strategi tersebut semakin penting setelah pemerintah menyepakati tambahan alokasi beras SPHP sebanyak 1 juta ton. Besarnya tambahan pasokan membuat distribusi tidak dapat hanya mengandalkan satu atau dua jalur penjualan, melainkan harus disebarkan melalui seluruh jaringan yang tersedia. Langkah tersebut diharapkan mempercepat penyerapan beras sekaligus memperluas jangkauan program stabilisasi harga hingga tingkat masyarakat. Bulog juga ingin memastikan stok yang tersedia di gudang dapat segera berputar dan memberikan dampak terhadap pasokan di pasar.
Rizal menjelaskan sedikitnya terdapat 10 jaringan yang dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan beras SPHP. Saluran tersebut antara lain pengecer di pasar rakyat, Rumah Pangan Kita (RPK) binaan Bulog, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, ritel modern atau swalayan, serta Gerakan Pangan Murah yang diselenggarakan pemerintah daerah. Distribusi juga dapat dilakukan melalui gerai pangan binaan pemerintah daerah dan lembaga atau instansi pemerintahan dengan melibatkan kerja sama lintas lembaga. Kantor Pos, Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), serta kios pangan turut menjadi bagian dari jaringan distribusi yang disiapkan. Dengan banyaknya jalur tersebut, masyarakat diharapkan semakin mudah menemukan beras SPHP tanpa harus bergantung pada satu saluran tertentu.
Bulog menegaskan distribusi tidak akan dipusatkan pada satu jaringan karena pendekatan tersebut berpotensi memperlambat penyerapan ketika volume beras yang harus disalurkan semakin besar. Sebaliknya, seluruh jaringan akan dimanfaatkan secara bersamaan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah. Pasar rakyat tetap memiliki peran penting karena menjadi tempat masyarakat memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari, sementara RPK dan kios pangan dapat menjangkau lingkungan permukiman dengan lebih dekat. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga diharapkan memperkuat distribusi hingga tingkat desa dan kelurahan. Pada saat bersamaan, ritel modern memberikan pilihan tambahan bagi masyarakat perkotaan untuk memperoleh beras program pemerintah tersebut.
Penguatan jaringan distribusi dilakukan ketika realisasi penyaluran beras SPHP dari alokasi sebelumnya telah mencapai sekitar 92 persen dari target 828 ribu ton. Dengan tingkat penyaluran tersebut, persediaan dari kuota sebelumnya yang masih tersedia berada di kisaran 80 ribu ton. Bulog pada awalnya mengusulkan tambahan sekitar 400 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan selama September hingga Desember 2026. Namun, pemerintah kemudian menyepakati tambahan yang lebih besar, yakni mencapai 1 juta ton, setelah mempertimbangkan kebutuhan stabilisasi pangan hingga awal 2027. Keputusan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi Bulog untuk melakukan intervensi ketika pasokan maupun harga beras mengalami tekanan.
Tambahan satu juta ton beras SPHP tersebut direncanakan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hingga penghujung 2026, tetapi juga berlanjut sampai Maret 2027. Pertimbangan itu berkaitan dengan periode Januari dan Februari yang belum memasuki masa panen utama, sedangkan panen berikutnya diperkirakan mulai berlangsung pada Maret. Pemerintah juga mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang periode Natal dan Tahun Baru yang biasanya diikuti kenaikan konsumsi sejumlah bahan pangan. Dengan cadangan yang lebih besar, Bulog mempunyai ruang untuk menjaga ketersediaan beras selama periode tersebut. Distribusi yang luas kemudian menjadi kunci agar tambahan stok benar-benar tersedia di tingkat konsumen dan tidak hanya tersimpan di gudang.
Tambahan alokasi beras SPHP diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas mengenai pengelolaan dan penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga beras selama musim kemarau serta mengantisipasi dampak fenomena El Nino. Beras SPHP medium akan disalurkan secara bertahap dan dipasarkan dengan harga yang mengikuti ketentuan zonasi sehingga tetap dapat dijangkau masyarakat. Pemerintah menilai intervensi pasokan perlu dilakukan secara terukur ketika produksi memasuki periode yang lebih rendah dibandingkan musim panen raya. Melalui penambahan stok tersebut, tekanan terhadap harga di tingkat konsumen diharapkan dapat dikendalikan sampai produksi kembali meningkat.
Selain memperluas jaringan, Bulog masih melanjutkan penyaluran beras SPHP dengan kemasan lama yang tersedia di sejumlah gudang. Stok tersebut akan terus didorong ke pasar agar distribusinya selesai sebelum penggunaan kemasan baru dilakukan secara lebih luas. Pemerintah sebelumnya menetapkan perubahan nama dan kemasan beras SPHP menjadi Beras Kita Medium yang direncanakan diperkenalkan pada 20 Oktober 2026. Perubahan kemasan tidak menghentikan proses penyaluran karena prioritas Bulog tetap memastikan pasokan beras tersedia bagi masyarakat. Dengan demikian, proses transisi produk akan berjalan bersamaan dengan distribusi stok yang telah tersedia sebelumnya.
Distribusi melalui banyak saluran juga diharapkan meningkatkan efektivitas SPHP sebagai instrumen stabilisasi harga. Ketika beras tersedia secara merata di pasar rakyat, gerai pangan, koperasi hingga ritel modern, masyarakat mempunyai lebih banyak alternatif untuk memperoleh beras dengan harga sesuai ketentuan. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi tekanan permintaan pada saluran tertentu sekaligus memperkuat pasokan di daerah yang mengalami kenaikan harga. Bulog sebelumnya menegaskan penyaluran SPHP merupakan salah satu instrumen strategis untuk menjaga keseimbangan harga dan memastikan masyarakat memperoleh beras yang terjangkau. Karena itu, kecepatan distribusi menjadi sama pentingnya dengan besarnya stok yang disediakan pemerintah.
Bulog selanjutnya akan mengoptimalkan seluruh jaringan yang tersedia untuk menyalurkan tambahan satu juta ton beras SPHP hingga memasuki periode panen pada Maret 2027. Penguatan distribusi diharapkan membuat intervensi pemerintah lebih cepat terasa di tingkat konsumen, terutama ketika kebutuhan meningkat menjelang akhir tahun dan pasokan dari produksi domestik memasuki periode lebih terbatas. Strategi penyebaran melalui banyak jalur juga memungkinkan Bulog menyesuaikan pola distribusi dengan karakteristik setiap daerah. Dengan stok yang memadai dan jaringan penyaluran yang semakin luas, pemerintah berharap stabilitas pasokan dan harga beras dapat terus dipertahankan. Pada akhirnya, keberhasilan program SPHP akan sangat bergantung pada kemampuan memastikan beras tersedia secara cukup, terjangkau, dan mudah ditemukan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.





