Jakarta, 25 Mei 2026 – Banyak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mengaku masih kesulitan mendapatkan pekerjaan meski pemerintah sebelumnya menjanjikan pembukaan jutaan lapangan kerja baru. Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan dan keresahan di kalangan pencari kerja muda yang berharap pendidikan vokasi dapat langsung membuka akses ke dunia industri. Di berbagai daerah, lulusan SMK disebut masih mendominasi angka pengangguran usia muda karena terbatasnya lowongan kerja yang sesuai dengan jurusan dan kompetensi mereka.
Sejumlah lulusan SMK mengaku sudah berulang kali melamar pekerjaan ke perusahaan, kawasan industri, hingga mengikuti bursa kerja, namun belum berhasil memperoleh pekerjaan tetap. Banyak di antara mereka akhirnya bekerja serabutan, menjadi pekerja informal, atau bahkan tetap menganggur selama berbulan-bulan setelah lulus sekolah. Situasi ini membuat sebagian lulusan mempertanyakan realisasi janji pembukaan 19 juta lapangan kerja yang sebelumnya digaungkan sebagai bagian dari strategi peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengamat ketenagakerjaan menilai persoalan pengangguran lulusan SMK bukan hanya soal jumlah lapangan kerja, tetapi juga berkaitan dengan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri. Banyak perusahaan kini membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan digital, teknologi, dan adaptasi kerja yang lebih tinggi, sementara sebagian lulusan SMK dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan kebutuhan pasar kerja modern. Selain itu, perlambatan ekonomi global dan efisiensi industri juga membuat perusahaan lebih selektif dalam merekrut pekerja baru.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan program penciptaan lapangan kerja masih terus berjalan melalui investasi industri, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan sektor ekonomi baru. Pemerintah juga menekankan bahwa pendidikan vokasi dan pelatihan kerja terus diperkuat agar lulusan SMK lebih siap masuk dunia kerja maupun menciptakan usaha mandiri. Namun berbagai pihak menilai hasil program tersebut belum sepenuhnya dirasakan langsung oleh para lulusan di lapangan.
Masalah pengangguran lulusan SMK kini menjadi perhatian serius karena menyangkut jutaan generasi muda usia produktif di Indonesia. Banyak pengamat menilai dibutuhkan sinergi lebih kuat antara sekolah, industri, dan pemerintah agar pendidikan vokasi benar-benar sesuai kebutuhan dunia kerja. Selain memperluas lapangan kerja formal, dukungan terhadap kewirausahaan, pelatihan teknologi, dan akses magang juga dianggap penting untuk membantu lulusan muda memperoleh peluang ekonomi yang lebih baik. Situasi ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar mampu menciptakan pekerjaan yang luas dan berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia.





