Festival Kue Bulan di Tangerang Jadi Momentum Pelestarian Tradisi dan Kebersamaan

Tangerang, 26 September 2026 – Festival Kue Bulan atau Zhong Qiu Jie dirayakan masyarakat keturunan Tionghoa di Wihara Boen San Bio, Kota Tangerang, Banten, Kamis (24/9). Perayaan berlangsung dengan berbagai kegiatan budaya yang menampilkan tradisi masyarakat Tionghoa sekaligus menjadi ruang kebersamaan antarwarga. Kue bulan menjadi salah satu unsur utama yang disiapkan dalam perayaan tersebut. Warga terlihat membagikan kue bulan kepada pengunjung yang hadir. Festival ini secara tradisional diperingati pada hari ke-15 bulan kedelapan berdasarkan kalender lunar Tiongkok.

Bulan purnama menjadi simbol penting dalam perayaan Festival Kue Bulan. Dalam tradisi Tionghoa, bentuk bulan yang penuh dikaitkan dengan keutuhan, keharmonisan, dan kebersamaan keluarga. Momentum tersebut sejak lama dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Menikmati kue bulan bersama menjadi salah satu cara mempertahankan tradisi dari generasi ke generasi. Nilai kekeluargaan tetap menjadi bagian utama perayaan meskipun bentuk kegiatan terus berkembang mengikuti zaman.

Festival tersebut juga memiliki hubungan erat dengan tradisi mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Masyarakat memanfaatkan perayaan untuk mensyukuri berkah yang telah diterima sekaligus menyambut datangnya musim panen. Kue bulan kemudian menjadi makanan khas yang tidak terpisahkan dari perayaan. Di Tangerang, tradisi itu terus dipertahankan oleh masyarakat Tionghoa, termasuk komunitas Cina Benteng yang memiliki sejarah panjang di wilayah tersebut. Tradisi kuliner tersebut turut menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang diwariskan melalui keluarga.

Rangkaian perayaan di Wihara Boen San Bio turut menampilkan unsur ritual dan kebudayaan. Kue bulan ditempatkan di meja altar sembahyang sebagai bagian dari pelaksanaan tradisi. Sejumlah peserta juga mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kue bulan, sementara pengunjung dapat menyaksikan berbagai aktivitas budaya. Perayaan semakin semarak dengan penampilan musik tradisional Tiongkok, termasuk permainan guzheng. Kehadiran unsur ritual, kuliner, dan kesenian membuat festival menjadi ruang untuk mengenalkan tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.

Kue bulan sendiri memiliki posisi khusus dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Tangerang. Sejumlah keluarga masih mempertahankan proses pembuatan secara turun-temurun dengan karakter rasa yang disesuaikan dengan tradisi lokal. Produksi biasanya meningkat menjelang perayaan karena kue digunakan untuk kebutuhan sembahyang maupun dibagikan kepada keluarga. Bagi sebagian masyarakat Cina Benteng, kue tersebut tidak sekadar menjadi makanan musiman, tetapi juga memiliki makna rasa syukur dan kebersamaan. Keberadaan usaha keluarga yang mempertahankan produksi kue bulan turut membantu menjaga kesinambungan tradisi tersebut.

Perayaan Festival Kue Bulan di Tangerang juga memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus bertahan di tengah perkembangan kota. Kegiatan budaya menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal makna di balik makanan, ritual, dan kesenian yang diwariskan pendahulu mereka. Tangerang sendiri memiliki komunitas Tionghoa dengan tradisi yang telah berkembang dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal selama beberapa generasi. Festival menjadi salah satu kesempatan untuk mempertahankan warisan tersebut dalam ruang publik. Kebersamaan dalam perayaan sekaligus memperlihatkan keberagaman budaya yang tumbuh di masyarakat Tangerang.

Melalui Festival Kue Bulan, tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad tetap diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Bulan purnama, kue bulan, kegiatan sembahyang, dan pertemuan keluarga menjadi simbol yang terus dipertahankan dalam perayaan. Di Wihara Boen San Bio, tradisi tersebut hadir melalui kegiatan yang melibatkan warga dan pengunjung. Perayaan tidak hanya menjadi momentum keagamaan dan kebudayaan, tetapi juga ruang untuk memperkuat hubungan antargenerasi. Festival tersebut diharapkan terus menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan tradisi masyarakat Tionghoa di Kota Tangerang.

Related Posts

Dubes Junimart Dorong Gekrafs Italia Perluas Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia

Jakarta, 30 September 2026 – Duta Besar Republik Indonesia Junimart Girsang menyatakan dukungan terhadap Dewan Pimpinan Luar Negeri Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (DPLN Gekrafs) Italia dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif…

Suami Teridentifikasi Tim DVI, Istri Korban KM Virgo Mengaku Lega dan Ikhlas

Banjarmasin, 29 September 2026 – Yuliani Intan Sari, istri salah satu korban meninggal KM Virgo Transport 8, mengaku lega setelah suaminya, Sugianto (41), berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification…

You Missed

Dubes Junimart Dorong Gekrafs Italia Perluas Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia

Dubes Junimart Dorong Gekrafs Italia Perluas Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia

Suami Teridentifikasi Tim DVI, Istri Korban KM Virgo Mengaku Lega dan Ikhlas

Suami Teridentifikasi Tim DVI, Istri Korban KM Virgo Mengaku Lega dan Ikhlas

ATSI Soroti Tantangan Besar Penerapan Mobile Number Portability di Indonesia

ATSI Soroti Tantangan Besar Penerapan Mobile Number Portability di Indonesia

Pakar: Konsep Halal Berkembang Jadi Ekosistem Industri Bernilai Tambah

Pakar: Konsep Halal Berkembang Jadi Ekosistem Industri Bernilai Tambah

Festival Kue Bulan di Tangerang Jadi Momentum Pelestarian Tradisi dan Kebersamaan

Festival Kue Bulan di Tangerang Jadi Momentum Pelestarian Tradisi dan Kebersamaan

Tunggal Jaya Investama Tambah Kepemilikan 13,41 Juta Saham IMPC

Tunggal Jaya Investama Tambah Kepemilikan 13,41 Juta Saham IMPC