Jambi, 30 Agustus 2026 – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Jambi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah yang terdampak ancaman karhutla.
OMC telah berlangsung sejak 27 Agustus 2026 dengan memanfaatkan potensi awan hujan yang tersedia. Pada Minggu (30/8), penyemaian awan dilakukan menggunakan bahan garam atau natrium klorida (NaCl) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Hujan Turun di Tiga Wilayah
Wakil Komandan Satgas Karhutla Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan penyemaian awan dilakukan pada pagi hari dengan menyebarkan garam di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur.
Sorti pertama dilaksanakan sekitar pukul 08.00 WIB. Hasilnya, hujan turun pada sore hari di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran operasi.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi M. Randy Hedyansyah HB menjelaskan hujan yang terjadi di Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi merupakan hujan yang dipengaruhi oleh pelaksanaan OMC.
Sementara itu, hujan yang turun di Kabupaten Kerinci, Bungo, Merangin, dan Sarolangun terjadi secara alami tanpa proses modifikasi cuaca.
OMC Kembali Dilakukan pada Malam Hari
Satgas Karhutla tidak menghentikan operasi setelah hujan turun. Pada Minggu malam sekitar pukul 18.00 WIB, tim kembali melaksanakan penyemaian awan di wilayah Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur.
Sebanyak satu ton garam disiapkan untuk sorti tersebut karena masih terdapat potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan.
Bachyuni mengatakan operasi akan terus dilakukan selama kondisi atmosfer menunjukkan adanya awan yang memungkinkan untuk disemai. Pelaksanaan OMC juga mendapat dukungan dari BNPB.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla melalui pemanfaatan kondisi cuaca yang mendukung untuk meningkatkan curah hujan di wilayah rawan kebakaran.
49 Titik Panas Terdeteksi
Upaya modifikasi cuaca dilakukan di tengah masih tingginya potensi karhutla di Jambi. Berdasarkan pemantauan satelit SNPP, NOAA20, dan Tera yang dirilis BMKG, hingga 30 Agustus 2026 pukul 00.00-16.00 WIB terdeteksi 49 titik panas yang tersebar di enam wilayah.
Jumlah titik panas terbanyak berada di Kabupaten Muaro Jambi dengan 22 titik. Hotspot tersebut tersebar di Kecamatan Sungai Gelam, Kumpeh, dan Kumpeh Ulu.
Selanjutnya, Tanjung Jabung Timur mencatat 13 titik panas yang sebagian besar berada di Kecamatan Muara Sabak Barat dan Mendahara. Titik panas lainnya terdeteksi di Kabupaten Tebo, Bungo, Sarolangun, dan Tanjung Jabung Barat.
Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla terus diperkuat, baik melalui operasi darat maupun operasi udara.
Hujan Jadi Pendukung Penanganan Karhutla
OMC menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan. Hujan yang turun dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi kondisi kering yang berpotensi memperbesar risiko kebakaran.
Sebelumnya, Satgas Karhutla Jambi dan BNPB telah menyiapkan 10 ton garam untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Sebagian bahan semai tersebut ditempatkan di posko untuk digunakan sesuai kondisi awan dan dinamika atmosfer. Operasi tahap pertama dijadwalkan berlangsung hingga 30 Agustus 2026, dengan kemungkinan diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.
Pelaksanaan OMC juga dilakukan secara selektif. Wilayah yang memiliki potensi hujan alami cukup tinggi tidak menjadi prioritas penyemaian sehingga sumber daya dapat diarahkan ke daerah yang lebih membutuhkan.
Keberhasilan memicu hujan di Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi menjadi salah satu hasil positif dari operasi tersebut. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan pemantauan dan tindakan lanjutan karena masih ditemukan titik panas di sejumlah wilayah.
Dengan kombinasi OMC, pemadaman darat, patroli, dan pemantauan titik panas, Satgas Karhutla Jambi bersama BNPB terus berupaya menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan selama periode kemarau.





